Istana Ratu Boko - Misteri Cinta dan Kemegahan Arsitektur Abad Ke 8

Istana ratu boko adalah kompleks istana megah pada jamanya yaitu abad ke-8 , bangunan ini dibangun oleh salah satu kerabat pendiri Borobudur. Istana Ratu Boko memiliki ketinggian 196 meter di atas permukaan laut. Memiliki luas 250.000 m2 yang terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, candi, pembakaran, kolam, batu berumpak, dan paseban. Dan bagian tenggara ada pendopo, balai-balai, tiga candi, kolam, dan kompleks keputren.  Pada bagian timur, terdapat kompleks gua, stupa budha dan kolam. Pada bagian barat hanya terdiri atas perbu

Istana pada mulanya bernama Abhayagiri Vihara ( biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Bangunan megah ini didirikan oleh Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra.  Di istana ini Anda akan melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi, dan perasaan damai akan anda dapatkan disini.

Image By Galuhdaridesa.wordpress.com


Jika Anda masuk dari pintu gerbang istana Anda akan langsung menuju pada bagian tengah. Di situ Anda akan meneumi dua buah gapura tinggi.  Gapura pertama memiliki 3 pintu sedangkan gapura kedua memiliki 5 pintu.  Mungkin sedikit orang yang mengamati denan teliti pada setiak gapura namun Anda belum terlambat untuk menemukanya  karena pada gapura pertama Anda biisa menemukan tulisan “Panabwara”. Kata itu, berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III, yang ditulis oleh Rakai Panabwara (keturunan Rakai Panangkaran) yang mengambil alih istana. Dimana tujuan penuisan tersebut adalah untuk melegitimasi kekuasaan, memberi  “kekuatan” sehingga lebih agung dan memberi tanda bahwa bagunan itu adalah bangunan utama.

Di sini Anda akan menemui bangunan Candi yang berbahan dasar batu putih sehingga masyarakat menyebutnya Candi Batu Putih. Masih di area situ Anda akan menemukan Candi Pembakaran, yang berbentuk bujur sangkar (26 meter x 26 meter) dan memiliki 2 teras.  Candi Pembakaran di gunakan untuk pembakaran jenasah, tidak jauh dari situ ada juga batu berompak dan kolam.

Istana menyimpan beberapa  misteri salah satunya sumur yang terletak di sebelah tenggara dar Candi Pembakaran. Konon, sumur tersebut bernama Amerta Mantana yang beratri air suci yang sudah diberi mantra. Sampai saat ini masyarakat masih menggunakanya, menurut mereka yang percaya air itu dapat membawa keberuntungan. Sedangkan orang Hindu menggunakanya untuk Upacara Tawur Agung sehari sebelum Nyepi. Orang-orang Hindu meyakini bahwa meggunakan air dalam upacara dapat mendukung tujuanya, yaitu untuk memurnikan diri kembali serta mengembalikan bumi dan isinya pada harmoni awalnya. Jika Anda ingin melihat proses upacara Nyepi Anda bisa menggnjungi Candi Prambanan sehari sebelum Nyepi.

Di sebelah timur istana, terdapat dua buah gua, kolam besar dengan ukuran 20 m x 50 m dan stupa Budha.  Dua buah gua terbentuk dari batuan sedimen yang disebut Breksi Pumis.  Gua yang beraada di atas dinanamkan Gua Lanang sedagkan yang berada di bawah disebut Gua Wadon.  Pas didepan Gua Lanang terdapat sebuah kolam dan tiga stupa, menurut para peneliti stupan itu merupakan Aksobya, salah satu Pantheon Budha.

Istana megah ini didirikan oleh seorang Budha namun uniknya memiliki unsur-unsur Hindu. Buktinya adalah terdapat  Lingga dan Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan “Om Rudra ya namah swaha” yaitu bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra yang merupakan nama lain dari Dewa Siwa. Dan itu adalah bukti betama masyarakata masih menjujung toleransi antar umat beragama. Konon, Rakai Panangkaran merupakan pengikut Budha namun hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu.

Ada yang mengatakan bahwa istana adalah saksi bisu awal kejayaan di tanah Sumatra.  Balaputradewa sempat melarikan diri ke istana sebelum ke Sumatera ketika diserang oleh Rakai Pikatan. Balaputradewa memberontak karena dirinya di anggap orang nomor dua di pemerintahan Kerajaan Mataram karena adanya pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramudhawardani ( audara Balaputradewa) karena kekelahanya, kemudian melarikan diri ke Sumatera dan di tanah itulah ia menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Jika candi yang lain adalah tempat untuk memuja dewa jadi ini memiliki keunikan tersendiri karena Istana Ratu Boko dulunya adalah tempat tinggal. Adanya tiang dan atap yang terbuat dari bahan kayu itu adalah bukti candi ini sebagai tempat tinggal. Namun sekarang yang tersisa hanya batur-barut dari batu saja.  Selain belajar warisan budaya  disinilah Anda  akan menemukan senja yang amat angat memukau. Anda bisa mengabadikan bersama orang terkasih, kerabat atau sahabat. Sangat bangus untuk menghilangkan suntuk atau lelah karena banyak tugas yang menumpuk.

Artikel TopWisata.Com Lainnya :

Scroll to top